Iseng Berhadiah

Di titik 15°C Sabtu malam. Setelah seambrek tugas rumahan terselesaikan dengan kekuatan super paksa karena besarnya gaya bermalas ria.

Finally, waktunya membersihkan diri tiba segera ku sambar handuk kuning yang tergantung di kamar, sekitar 10 menit berlalu adegan siraman dengan menggunakan kran air hangat selesei, setelah semua kembali rapi aku duduk bersila menyambung cengkrama dengan layar lima inciku.

Ku buka appliksi yang bericon huruf F berwarna biru, berselancar di beranda.

Aku hanya scrall scroll mengamati mereka yang lalu lalang.

Pamer? Ada …
Mengeluh? Ada …

Berbagi cerita inspirasi? Buanyak.

Wajar saja dari 2000 lebih list pertemananku bukan hanya satu pemilik. Yang masing2 kepala memiliki cara berbeda membudidayakan akun miliknya.

@#$%^& ______

Jariku terhenti, mataku mengamati kata perkata yang ia tulis.

Bercerita tentang anak kesayanganya tidak di temui setelah seisi rumah dicarinya, dengan ijin Tuhan, dengan kekuatan doa, dengan agungnya fadhilah Qs.At TareeqNya si anak bisa ditemukan.

Dengan keyakinanya, sesuatu yang tiba-tiba tanpa kepastian disegerakan perantar sholawat Nariyah yang beliau amalkan. Dan masih banyak lagi.

Dengan banjirnya kolom komentar dari berbagai empati, kesaksian yang sudah mengamalkanya, membuatku mengangguk mengiykan bahwa ‘tak ada kesia-siaan dalam berdoa’ itu benar adanya.

Sesekali aku isi komentar bahwa aku sebenarnya merinding mendengar cerita beliau yang dekat dengan TuhaNya. Tak perlu mempertebal tapi, sing ‘madhep lan yakin maring pengeran’. Berat? Memang. Namun ini bisa dilatih bukan?

Disini aku merasakan hikmah dengan akun ini, akun yang baru berusia hitungan bulan.

Bukan menebar benih negative namun kuerenya menuju banyak hal positif.

Mari berbenah!
Bisa memulai lebih hati-hati menambahkan list friends.
Semoga kamu bahagia,mengenalku! 🥀

Terima yang sudah menggunakan media ini dengan baik, terus berbagi dan sehat selalu yaaaa. 🙂

🌸🌸🌸
Hang hau, 23 Feb
22:00 HKT

Iklan

Almamater – 1

Hujan deras mengguyur sejak ba’da zuhur. Ini kemenangan sebab ngaji kitab ashar nanti diliburkan. Air menggenang mengapungkan sendal, botol aqua hanyut serupa perahu getek menuju hilir. Asap gorengan dari warung Mbok Siti menghambur, berganti-ganti dengan menguarnya tanah yang digrujuk air hujan.

Dingin menusuk. Sebab itulah mbak-mbak santri mengeriuk. Di pelataran kamar dipenuhi santri meringkuk kedinginan. Sebagian memilih menghangatkan tubuh dengan bermain bola bekel, ada juga yang memilih turun menyerbu kantin menikmati gorengan bakwan yang digigit bersamaan dengan cabai hijau. Ada pula yang memilih duduk-duduk sambil lalaran nadzom ‘imrithi bertarung dengan bunyi hujan menghantam genting.

Dirgahayu Indonesia ke-74

Menggapai bintang dengan syukur

🇮🇩 × 🇭🇰
(Minggu, 18.08.19) – Sesungguhnya kesempatan menjadi anggota Paskibraka adalah hal yang mulia.
Menjadi bagian dalam ‘Pasukan Pengibaran Bendera Pusaka’ adalah percapaian yang luar biasa. Terlebih ini bukan Indonesia. Bersyukur dengan kesempatan langka.

Disini, meskipun tidak seribet seleksi di Indonesia sana, tetap harus melewati seleksi latihan, memeras peluh setiap minggunya. Dengan suhu kisaran 39°C, belum juga ditambah panasnya demonstrans di Hongkong yang menjadi momok untuk melangkah keluar menuju tempat latihan.

| Dirgahayu Indonesia ke-74 🇮🇩 |

Duo Super Hero

Ada rasa takut yang ku jahit dengan pintalan doa.

Untuk ia, semoga selalu sehat sejahtera.

Hongkong (20.06.2019) – Selesei sarapan ku tumpuk piring begitu saja di pojokan, dekat kran besi bewarna perak. Segera kuraih gawai di kasur Micky mouse, membuka applikasi bersimbol hijau muda dengan icon telepon.

05.58 Ada pesan dari ibu melayangkan bawa Mbah putri tengah sakit, setelah kemaren sore ba’da suntik, beliau tidak bisa beranjak bangun. Seperti biasa ritual paginya diawali menuju kolah membersihkan diri dilanjut mendirikan salat.
Pagi ini, ibu yang mbakteni nyeponi awak dan menyuapi sarapan.

Aku terdiam setelah membaca habis news family, iya, ibu lah yang selalu istiqomah memberi kabar saat aku jauh dari rumah. Beliau juga yang memiliki tugas extra dalam ngramot wong umah. Saat Simbah entah Bapak yang kurang sehat. Meskipun, pernah suatu ketika mereka bertiga merasakan sakit bersamaan. Tapi, tetaplah ibu yang menjadi sosok paling kuat, untuk ngabekti, berpura untuk tetap baik-baik saja, membungkus sakit.

Teruntuk dua wanita hebatku, sehat selalu ya. 🤗

Cinta Di Semangkuk Mie Ayam

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati, rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi, tak jemu untuk diulang berkali-kali.

Ana Uhibbuki,” terukir jelas tulisan tangan yang indah itu, menggurat penuh makna, terselip dalam tebalnya Kitab Imrtithi, sebuah nadzhom tentang kaidah gramatikal Bahasa Arab.
Datar. Entah apa yang ada di pikiranku, kata-kata indah bagi sebagian orang yang dimabuk asmara adalah kata-kata candu, aku tak bisa merasakannya. Biasa saja. Seolah tidak ada artinya, hanya secarik kertas yang tak bernilai. Mungkin lebih manfaat jika kertas itu dijadikan bungkus gorengan.
Aku melipatnya, menaruh kitab itu di lemariku.

Azan isya’ terdengar nyaring, mengundang pemeluk agamanya untuk bergegas memenuhi surau, salat isya berjamaah. Seperti biasa, sebelum berangkat, aku sudah berwudu di rumah. Bagiku berwudu di rumah adalah sebuah keharusan. Bukan saja karena di surau tidak ada tempat wudu wanita, tapi enak saja jika berangkat ke surau sudah dalam keadaan siap, termasuk wudlu.
Malam itu aku bergegas melangkahkan kaki ini menuju surau, satu dua kulihat anak kecil berlarian, bermain di halaman surau, tertawa. Teringat masa kecilku dulu, tak akan berhenti bermain sebelum ustazah memarahiku, menyuruhku bergegas siap-siap sholat jama’ah. Seperti wasiat Embah Sanusi: rajin mengaji agar menjadi orang pintar, rajin berjamaah agar menjadi orang (berperilaku) benar.

Begitulah kehidupanku sejak kecil, aku terdidik di lingkungan pesantren. Ayahku yang pertama kali membawaku ke pesantren. Suasana baru, lingkungan baru, dan tentu saja menjauhkanku dari teman-teman bermainku di kampung. Menyebalkan.

***

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati, rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi, tak jemu untuk diulang berkali-kali.

Setelah seribu purnama terlewati, kehidupanku kini telah berbeda, tidak lagi di pesantren. Sudah sejak lama aku lulus dari pesantren, mengabdi di masyarakat. Nasi telah menjadi bubur, sesal tak dapat diulang. Begitulah yang aku rasakan kini. Tak pernah serius dalam belajar di pesantren. Menjadi abdi masyarakat tak semudah yang kubayangkan dulu, memimpin pengajian, rutinan majelis ibu-ibu, sebatas itu. Tak pernah terbayang sedikitpun bahwa kelak akulah yang menjadi cerminan Islam, simbol dari agama. Masyarakat menilai alumni pesantren adalah suri teladan baik sikapnya, tutur katanya, dan yang pasti adalah fatwanya, berat. Teramat berat kujalani.

Untunglah Nyaiku dipesantren adalah seorang Ibu yang tak hanya menjadi ibu spiritualku, ia juga menjadi seorang ibu yang benar-benar peduli pada santrinya meski sudah lama meninggalkan dunia pesantren. Nasihat demi nasihat selalu kudapatkan darinya, membimbingku dalam menapaki dunia baru. Katanya, tak mengapa nasi sudah menjadi bubur, tinggal ditambahkan kecap dan bumbu penyedap, maka jadilah makanan lezat yang siap dinikmati.

***

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati, rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi, tak jemu untuk diulang berkali-kali.

Sore hari semilir angin meniup lembut, mengibarkan ujung kerudungku, mendawaikan alunan musik klasik yang kudengar dari ponselku, syahdu. Hari yang indah ditemani secangkir kopi kesukaanku, teman yang sangat pas sambil membuka-buka kembali kitab imrithi-ku, menjaga hafalanku.

Ana Uhibbuki.” Tulisan Bahasa Arab itu kubaca kembali, tak sengaja lebih tepatnya. Mengapa pula dulu aku masih menyimpannya? Ah bukankah dulu aku tak pernah peduli, bahkan lebih baik menjadi bungkus gorengan? Mengapa pula kini masih kutemukan huruf-huruf yang terukir dari jemari tangan Kang Zay? Ingatanku kembali mengawang, membayangkan kejadian beberapa tahun silam lamanya, secarik kertas tertulis pegon dari pengurus komplek di pondok putra.

Dia yang selalu siap membeli mie di pertigaan komplek, ketika hasratku bergejolak untuk mencecap ayam kecap racikan Bi Enah.

Dia juga yang memberiku kitab saku imrithi, karena ia tahu aku menyukai ilmu nahwu.

Oh Tuhan, mata teduhnya, wibawanya, kesopanannya. Ah tidak. Tidak mungkin aku jatuh hati. Bukankah dulu aku mengabaikannya? Tidak penting bagiku. Tapi, Ya Tuhan aku tak berhenti melamunkannya.
Gambaran lelaki itu jelas terlintas dalam lamunanku, mengabaikan niat mengulang hafalan imrithi-ku. Senyap, hanya semilir angin yang masih mengelus sepoy membuai lembut diriku.

Sudah satu jam yang lalu musik di ponselku berhenti, habis daftar putar lagunya.

“Assalaamu’alaikum ….”

“Wa’alaikum Salaam warohmatullah … Santi?” segera kututup surat itu, menyimpannya rapih di dalam kitab imrithi-ku.

“Ya Allah, kamu masih mengingatku ternyata.”

“Masih lah, kamu kan yang dulu jadi santri tukang tidur kalo lagi ngaji, sampai-sampai Bu Nyai yang membangunkanmu.”

“Dasar, kamu mengingatnya yang jelek-jeleknya saja. Padahal aku kan salah satu santri yang berprestasi, selalu juara musabaqoh akhirus sanah.”

“Iya, juara lomba makan kerupuk. Ada apa, San? Kok tumben ke rumahku,” tanyaku tanpa basa-basi.

“Ini, kubawakan surat dari seseorang. Aku lupa mau mengabarimu lewat SMS, lagi pula nggak ada pulsa sih.”

“Ah alasan saja, bilang saja kalo emang gak ada pulsa.”

“Maksudnya itu,” tertawa.

“Omong-omong, surat dari siapa tuh?”

“Kamu baca aja sendiri, nanti juga kamu bakal tahu.” Jawabnya singkat.

“Siapa?” tanyaku penasaran.

“Baca aja.”

Kuambil surat dari tangannya, kulihat Santi cengar-cengir seperti meledek. Menambah kecurigaanku. Ada apa? Jangan-jangan Santi mau mengerjaiku lagi?
“Yasudah nanti aku baca kalo udah di kamar ya. Ayo sini mampir dulu, pasti sambil nyari makan kan?” Aku meledeknya.

“Eh nggak ah, aku mau ke rumah tanteku, sudah ditunggu. Yaudah aku duluan ya. Assalaamu’alaikum.”

“Wa ‘alaikum salaam warohmatullah, makasih, San.”

***

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati, rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi, tak jemu untuk diulang berkali-kali.

Aku pamit ya? Jangan nakal dan tunggu aku kembali! Aku akan bekerja di Ibu Kota, do’akan semua lancar, simpan nomer ini jika kamu membutuhkan.”

Dadaku berdesir. Denyut jantungku berdebar kencang. Malam ini sungguh menjadi malam yang berat bagiku, membuatku tak bisa terlelap tidur. Kucoba mengalihkan konsentrasiku, pikiranku masih saja mengingatnya. Oh Tuhan, apakah ini karma? Rasa-rasanya aku telah bertekuk lutut atas nama cinta.

***

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati, rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi, tak jemu untuk diulang berkali-kali.

“Assalamualikum,” Kata pembukaku dalam surat yang kutulis penuh keringat dingin, gerogi.
Aku adalah seorang penulis, buku-buku karyaku sudah banyak terbit. Tapi entah kenapa, malam ini sepertinya pena sedang tidak bersahabat denganku. Semua kata-kataku menjadi buntu. Bingung apa yang harus aku tulis. Bahkan untuk mengawali isi suratku saja, aku menghabiskan dua jam menulisnya, patah-patah. Sudah puluhan kertas yang berserakan di lantai, hasil robekanku yang tak sempat tertulis dengan baik di lembar suratku. Aku payah.

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati, rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi, tak jemu untuk diulang berkali-kali.

Semenjak kamu yang memilih tetap bertahan pada jarak, membuatku mencari tahu siapa sebenarnya kamu. Dari nama sebenarnya sudah bisa terbaca bahwa asal keluargamu bangsawan, pun pendidikan tak diragukan lagi. Aku? Hanya kasta waisya.

Zaenal Rojo Akbar, itulah namanya. Pemuda yang berhasil mengganggu malam-malamku, mengusik tidur lelapku, tak pernah hilang dari lamunanku. Dia yang pertama kalinya mengenalkanku apa yang pernah dirasa Laila pada Qeis, aku gila. Benar-benar gila.
Kuputuskan membiarkan penaku tergeletak, suratku tak pernah usai. Kubiarkan ia terkulai, usang menyimpan selaksa cinta.

Kuambil ponselku, kuberanikan diri menghubunginya. Gagal. Kutaruh kembali dimeja kamarku. Kusentuh kembai, lalu kutaruh kebali. Seperti ada sesuatu yang membuatku terasa berat mengetik SMS untuknya. Tak berani. Demi Tuhan, ini tak pernah terjadi padaku sebelumnya, gila. Benar-benar gila karenanya. Tapi entah mengapa aku justru menikmati kegilaan ini.

“Aku Nilan. Apa kabar?” Empat jam sudah kulalui hanya untuk sekedar menuliskan pesan singkat ini. Hatiku berdebar tidak karuan. Memikirkan kira-kira balasan apa yang akan dia tulis untukku. Semoga saja. Jantungku benar-benar berdegup kencang. Sesekali aku minum air, berusaha menenangkan diriku. Tak berhasil.
Apalagi yang kupikirkan? Oh Tuhan Nilan, jangan berharap lebih. Siapa kamu? Apa kelebihanmu? Dia pintar, tampan, orang kaya, sedang kamu? Ah, lupakan saja, Nilan. Ekspektasimu terlalu tinggi, sakit kalau nanti jatuh. Aku mencoba menyadarkan diri.

***

Atas nama rasa yang tengah tertambat di relung hati. Rasa merah muda di dua anak manusia. Seperti bait puisi tak jemu untuk diulang berkali kali.

“Nilan, aku ingin menikahimu.” Aku kaget membaca pesan masuk.
Benarkah apa yang kubaca? Betulkah ini tulisannya? Lamat-lamat kubaca lagi nama pengirim pesan di ponselku, Zaenal. Benar ini pesan darinya. Tapi tak mungkin, mengapa ia mengirimkan pesan ini padaku?
Jangan-jangan ia salah kirim? Tapi pesan itu jelas tertulis namaku? Dasar lelaki misterius. Hatiku tambah tidak karuan. Jangan-jangan ponselnya dibajak? Aku berusaha menepis kemungkinan itu.
Lihatlah, aku menjatuhkan air mata. Apa yang sedang kurasakan? Haru? Takut? Entahlah. Hatiku tak mampu menjelaskan.
Aku lempar hape diatas kasur bergambar hello kitty.

***

Dua hari berlalu, gawaiku berdering, “Nilan, Ibu menjodohkanku. Maafkan aku, Nilan. Tak ada maksudku mempermainkanmu.” Remuk hatiku. Hancur berkeping-keping. Lelaki macam apa sebetulnya dia, begitu tega mencabik-cabik perasaanku. Untuk apa dia hadir membawa cinta jika nyatanya akan meninggalkanku saat diriku benar-benar tak kuasa menahan cinta? Biadab sekali perbuatannya.
Wajahku memerah, air mata mengucur membasahi kerah bajuku sejak tadi. Ingin sekali ku banting ponselku. Betapa kejinya ia mempermainkan cinta, memperbudakku atas nama cinta, lalu meninggalkanku dalam ketidak-berdayaan. Amarahku membukit-bukit.

“Nilan, aku akan berusaha berbicara dengan ibu, maaf kita harus berjeda dulu. Aku tak ingin membuatmu lebih terluka.”

Apa katanya? Berbicara dengan ibu? Bicara apa lagi? Mau bahasa apa lagi untuk memperdaya hatiku? Masih kurang puaskah aku menderita? Mati karena cinta. Tak ingin membuatku lebih terluka,omong kosong! Kamu pengkhiyanat!
Aku menangis tersedu-sedan, ingin sekali rasanya mati.

***

Semenjak obrolan WA tujuh bulan lalu sudah mulai kubatasi diri bermain Sosial media, ponselku hanya disibukkan dengan alarm, musik dan sesekali SMS operator mengingatkan sudah waktunya mengisi pulsa. Kadang kala, aku meronta kenapa seolah takdir selalu bercanda, kala ada yang ingin membersamaiku namun tidak dengan restu ibu. Akupun berpikir, mengapa pula aku harus percaya padanya, menaruh harapan tinggi, menyimpan cinta. Ah bodohnya aku.
Wanita mana yang hatinya tak hancur, aku tahu luka ini akan sangat sulit disembuhkan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengeringkan sayatan. Namun setidaknya dengan caraku melepaskan paling tidak sudah menyelamatkan seorang anak lelaki agar tidak kehilangan Syurga.
Aku tidak akan meronta terlalu lama, harusnya aku bisa akrab dengan kepedihan, karena aku Nilan. Nama yang diberikan orang tuaku yang bisa jadi terinspirasi dari bahasa Jawa; Nelangsa. Karena saat melahirkanku, bapak tidak bisa menemani karena harus bekerja di Daerah Sungai Mahakam. Mencoba memberi asupan gizi pada pikiran, berdoa dikuatkan rohani.

Tubuhku terdampar setelah seharian melakukan seambrek rutinitas. Ponselku bergetar ada dua panggilan tak terjawab dari Zay, untuk apa ia menghubungiku? []

=Selesei=

Ied Al-Fitr Mubarok

HONG KONG – Meminta maaf yakni sebuah proses mengalahkan ego, pun memaafkan adalah proses kebahagiaan masuk pada hati kita. Perihal dimaafkan adalah urusan hati masing-masing, terlepas dari kamu berdamai atau tidak denganya, tapi, setidaknya, kamu sudah berdamai dengan hati dan egomu. Sudah saatnya eratkan hubungan, dan berdamai dengan kenyataan. Kemenangan sesungguhnya adalah milik mereka yang tetap menyadari bahwa setiap orang pernah salah, tak ada alasan untuk tidak saling memaafkan. 💚